Senyum Itu…

Posted on July 11th, 2007 by Jack in Humanity

Sebuah jalan kecil yang harus selalu saya lewati ketika berangkat dari dan pulang ke rumah, hampir selalu bikin hati jadi panas. Jalan itu satu arah, ditandai dengan rambu dilarang belok kiri. Selain rambu tersebut, maka mulut jalan itupun dipersempit sehingga hanya bisa dilewati satu mobil dari arah sebaliknya. Tetapi dasar pengendara nekat, rambu pun tetap dilanggar, mulut jalan dipersempit tidak jadi halangan.

Sebenarnya saya mulai terbiasa dengan keadaan itu. Namun pagi tadi, hilang juga kesabaran saya. Mobil saya sudah jelas-jelas sampai ke mulut jalan itu, pengendara motornya bukannya berhenti malah terus saja masuk. Akhirnya mobil saya merangsek maju dan hampir saja seorang pengendara motor menabrak mobil saya. Saya menatap orang itu sambil tangan saya menunjuk rambu, eh bukannya sadar malah matanya melotot dan menantang, “ada apa pak ?” Dengan suara lantang juga saya bilang “Lihat tuh rambu”. Dengan hati masih dongkol saya tancap gas, keburu telat.

Sesudah melewati jalan sepanjangTomang, ketika hampir memasuki underpass menuju Tangerang seseorang kembali menghadang laju kendaraan karena menyeberang disembarang tempat. Berhasil melewati barisan kendaraan dilajur kiri, tinggal satu barisan kendaraan dilajur kanan. Astaga! tepat didepan kendaraan saya juga. Berpikir cepat beri kesempatan dia lewat atau melaju terus. “Cling”, saya memutuskan memberi kesempatan dia lewat. Sambil membungkuk sedikit dan melihat kearah saya, lelaki muda itu mengagguk dan tersenyum seraya melintas menuju bibir jalan. “Nyesss”. Rasanya seger. Hati saya seketika begitu rela, bahkan seolah-olah mendapat kekuatan baru dari senyum itu.

Pengendara motor dan lelaki muda itu sama-sama melanggar peraturan, tetapi untuk kasus kedua saya sedikitpun tidak punya komplain. Sebegitu kuatkah pengaruh senyum buat setiap orang ? Sepanjang jalan menuju karawaci saya memikirkan soal senyum ini. Kalau bangsa ini lebih banyak senyum dalam menyelesaikan masalah rasanya akan sangat membantu. Dengan hati yang segar, kepala yang dingin banyak persoalan pelik menjadi lebih mudah daripada kelihatannya. Bukankah ada pepatah mengatakan”Tertawa itu sehat” ? atau “Tertawalah selama masih gratis”.

Ada satu masalah. Konon katanya orang Indonesia itu baru senyum atau tertawa ketika sedang “kurang cerdas”. Maksudnya ? Misalnya ada pertanyaan, “Coba bagaimana menurut pendapat anda ?” Jika sedang “kurang cerdas” maka orang yang ditanya akan garuk-garuk kepala dan bergumam tidak jelas sambil senyam-senyum.

Saya harap senyuman anda bukan senyuman “kurang cerdas”

Leave a Reply